URGENSI IKHLAS DALAM AMAL


 Kita semua tahu bahwasanya menuntut ilmu adalah keharusan bagi setiap muslim. kemudian setelah mengilmui sesuatu kita di tuntut untuk mengamalkan ilmu kita tersebut, karena kita akan di tanyakan tentang ilmu dan apa yang kita amalkan terhadap ilmu tersebut.

Sebagaimana rasulullah shallahu 'alaihi wasallam sebutkan dalam hadisNya, tidak akan bergerak kaki anak adam sampai di tanya akan 4 hal, dan di antaranya adalah 

 وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ 

ilmunya di manakah ia amalkan,.” 

(HR. Tirmidzi, dari Abi Barzah Al Aslami. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

 

dan di dalam hadist lain juga di sebutkan 

وَالقُرْاَنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ

Al Qur’an itu bisa menjadi pembelamu atau musuh bagimu (memberatkanmu) .” (HR. Muslim)


  ulama menjelaskan yang di maksud hadist ini adalah Al-Quran  hujjah yang akan membela atau hujjah yang akan memberatkanmu ketika engkau amalkan atau tidaknya Al-Quran tersebut.


dan seorang bijak mengatakan 

العلم بلا عمل كالشجر بلا ثمر

Ilmu tanpa amal, ibarat pohon tanpa buah.”

Namun ada hal besar yang hendak kita perhatikan ketika ber amal, Ia adalah tolak ukur di terima atau tidaknya amalan kita dan juga bentuk implementasi dari persyahdatan kita, yaitu Al-Ikhlas.

Allah Ta'ala berfirman dalam surat Al-bayinah ayat 5

وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِۗ 
"Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-matakarena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar)".

dan nabi shalallahu 'alaihi wasallam  menyebutkan dalam hadist-Nya

إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ

Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan RasulNya, maka hijrahnya untuk Allah dan RasulNya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Apa itu ikhlas?

di dalam kitab Tazkiyah an-nafs karangan seykh DR.Ahmad farid حفظه الله mengatakan ikhlas itu adalah 

 تجريد قصد التقرب إلى الله عز وجل عن جميع الشوائب

 “Ikhlas itu adalah memurnikan tujuan dalam bertaqorrub kepada Allah ta'ala dari hal-hal yang mengotorinya”. 

hal yang mengotori adalah perasaan riya', sum'ah, ingin di puji dalam beramal.

dan juga di katakan 

إفراد الله عز وجل بالقصد في الطاعات

"menjadikan Allah Ta'ala satu-satunya tujuan dalam ketaatan".

dan juga dikatakan ikhlas itu

نسيان رؤية الخلق بدوام النظر إلى الخالق

"mengabaikan/melupakan pandangan makhluk dengan senantiasa berkonsentrasi memandang kepada pandangan Allah yang maha pencipta (Al-Khaliq)".

maksudnya adalah seseorang tidak peduli dengan apa yang jadi pandangan manusia terhadap yang Ia kerjakan selama itu benar dan sesuai dengan yang Allah Ta'ala perintahkan, di caci tidak tumbang, di puji tidak terbang. 

lalu apa dampak dari ke ikhlasan seseorang dalam beribadah dan ketaatan?

ketika seorang hamba mengikhlaskan peribadahanya kepada Allah Ta'ala maka amalan-amalan dan ibadah-Nya akan di terima sebagaimana mafhum dari dalil-dalil yang telah kita sebutkan. 

dan sebaliknya, ketika seorang hamba tidak ikhlas maka dia akan mendapatkan ancaman dengan tidak di terima amalan-Nya, akan sia-sia amalan-Nya seperti debu yang berterbangan nantinya pada hari kiamat sebagaimana firman Allah ta'ala dalam surat Al-Furqon ayat 23

وَقَدِمْنَآ اِلٰى مَا عَمِلُوْا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنٰهُ هَبَاۤءً مَّنْثُوْرًا  

"Dan Kami akan perlihatkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami akan jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan". 

juga di ceritakan tentang 3 orang yang pertama kali di adili di hari kiamat padahal mereka adalah orang-orang dengan amalan super dalam islam tapi tidak ikhlas dalam amalan mereka. dalam hadist sohih dari sahabat mulia Abu Hurairoh rhadiaAllahu 'anhu bahwasanya dia pernah mendengar Nabi shallahu 'alaihi wasallam bersabda

إن أول الناس يُقضى يوم القيامة عليه رجُل اسْتُشْهِدَ، فأُتي به، فعرَّفه نِعمته، فعرَفَها، قال: فما عَمِلت فيها؟ قال: قَاتَلْتُ فيك حتى اسْتُشْهِدْتُ. قال: كَذبْتَ، ولكنك قَاتَلْتَ لأن يقال: جَرِيء! فقد قيل، ثم أُمِرَ به فَسُحِب على وجهه حتى أُلقي في النار. ورجل تعلم العلم وعلمه، وقرأ القرآن، فأُتي به فعرَّفه نِعَمه فعرَفَها. قال: فما عملت فيها؟ قال: تعلمت العلم وعلمته، وقرأت فيك القرآن، قال: كَذَبْتَ، ولكنك تعلمت ليقال: عالم! وقرأت القرآن ليقال: هو قارئ؛ فقد قيل، ثم أُمِر به فَسُحِب على وجهه حتى ألقي في النار. ورجل وَسَّعَ الله عليه، وأعطاه من أصناف المال، فأُتي به فعرَّفه نِعَمه، فعرَفَها. قال: فما عملت فيها؟ قال: ما تركت من سبيل  تُحِبُّ أن يُنْفَقَ فيها إلا أنفقت فيها لك. قال: كَذَبْتَ، ولكنك فعلت ليقال: جواد! فقد قيل، ثم أُمِر به فَسُحِب على وجهه حتى ألقي في النار[رواه مسلم]

 "Sesungguhnya manusia yang pertama kali diputuskan perkaranya pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid. Ia dihadapkan kepada Allah lalu dikenalkan kepadanya nikmat-Nya, maka ia pun mengenalnya. Allah berfirman, "Apa yang telah engkau lakukan dengan nikmat ini?" Ia menjawab, "Aku telah berperang di jalan-Mu sampai aku mati syahid." Allah berfirman, "Engkau berdusta. Engkau berperang agar disebut pemberani, maka sungguh hal itu telah dikatakan." Selanjutnya ia diperintahkan untuk dibawa lalu diseret dengan wajahnya sampai ia dilemparkan ke neraka. Selanjutnya, orang yang mempelajari satu ilmu dan mengajarkannya dan membaca Al-Qur`ān. Ia pun dihadapkan kepada Allah, lalu dikenalkan kepadanya nikmat-Nya, maka ia pun mengenalinya. Allah berfirman, "Apa yang telah engkau lakukan dengan nikmat tersebut?" Ia menjawab, "Aku mempelajari satu ilmu dan mengajarkannya dan aku membaca Al-Qur`ān karena-Mu." Allah berfirman, "Engkau berdusta. Engkau belajar agar disebut seorang yang berilmu dan engkau membaca Al-Qur`ān agar disebut pembaca, maka sungguh semua itu telah dikatakan." Lalu ia diperintahkan untuk dibawa lalu diseret dengan wajahnya sampai ia dilemparkan ke neraka. Selanjutnya, orang yang diluaskan rezekinya dan diberi berbagai macam harta oleh Allah. Lalu ia dihadapkan kepada Allah kemudian dikenalkan nikmat-Nya, maka ia pun mengenalinya. Allah berfirman, "Apa yang telah engkau lakukan dengan nikmat ini?" Ia menjawab, "Aku berinfak karena-Mu di semua jalan yang Engkau sukai." Allah berfirman, "Engkau berdusta. Engkau melakukan itu agar disebut dermawan, maka sungguh hal itu telah dikatakan." Kemudian ia diperintahkan untuk dibawa lalu diseret dengan wajahnya sampai ia dilemparkan ke neraka". (H.R Muslim)

mungkin kita bisa menunjukkan kesholihan kita di depan manusia di dunia tapi Allah Ta'ala tau apa-apa yang ada di dalam hati dan akan di tampakkan nantinya di hari kiamat di depan Allah Ta'ala.

semoga Allah ta'ala memberikan kemudahan dan taufik-Nya untuk kita bisa terus menuntut ilmu kemudian mengamalkan-Nya dan ikhlas dalam beramal....


jember, 5 maret 2023

fitra andriansyah


referensi :
Al-Quran Al-karim.
Sohihul bukhori.
Shohihul Muslim.
tazkiyah an-nafs karya DR. Ahmad farid


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kaidah Fiqih: الضرورات تبيح المحظورات (Darurat Membolehkan hal yang Dilarang)

Kaidah Fikih: “الضرورة تُقدَّر بقدْرِها” (Darurat Diukur Sesuai Kadar Kebutuhannya)

KAIDAH FIKIH: “الحُكْمُ يَدُورُ مَعَ عِلَّتِهِ وُجُودًا وَعَدَمًا” Hukum Berputar Bersama ‘Illat-nya, Ada atau Tidaknya