Jangan merugi di bulan ramadhan



Kita ketahui semua bahwasanya bulan ramadhan adalah bulan ampunan, terdapat banyak hadits yang menjelaskan hal tersebut, diantaranya


الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ، وَرَمَضَانُ، مُكَفِّرَاتُ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ


“Shalat lima waktu, mengerjakan shalat jumat sampai shalat jumat yang lain, berpuasa Ramadhan adalah penghapus-penghapus dosa diantaranya jika dijauhi dosa-dosa besar".[1]



مَنْ صام رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ


“Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan karena iman dan karena berharap pahala, niscaya diampuni untuknya dosa-dosa yang telah lalu.”[2]


مَنْ قَامَ رمضان إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ


“Barangsiapa yang bangun malam shalat Tarawih di dalam bulan Ramadhan karena iman dan berharap pahala, maka diampuni dosanya yang telah lalu”[3]

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ


“Barangsiapa yang bangun malam pada Lailatul Qadar karena iman dan karena berharap pahala, maka diampuni dosanya yang telah lalu.”[4]


Hadis-hadist ini memberikan kita pelajaran bahwasanya bulan ramadhan dan amalan-amalan yang ada pada bulan ini memiliki keutamaan yang tidak dimiliki bulan-bulan lainya entah itu puasa, shalat tarawih, malam lailatul qadar dan hal-hal lainnya sebagai penghapus dosa seorang hamba, maka sudah selayaknya kita bersemangat mengambil keutamaan tersebut karena bulan ramadhan tidak akan menunggu kita sampai mengambil keutamaan tersebut, kitalah yang harus memburunya, ramadhan akan pergi meninggalkan kita, berlalunya suatu hari maka berlalu pula ramadhan kita, dan kita tak akan pernah tahu ramadhan tahun depan akan menjadi milik kita atau bukan.

Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah berkata,

عباد الله إن شهر رمضان قد عزم على الرحيل ولم يبق منه إلا القليل فمن منكم أحسن فيه فعليه التمام ومن فرط فليختمه بالحسنى  


“Wahai hamba-hamba Allah, sungguh bulan Ramadhan telah bertekad untuk pergi, dan tidak tersisa waktunya kecuali sedikit, maka siapa yang telah berbuat baik di dalamnya hendaklah ia sempurnakan, dan siapa yang telah menyia-nyiakannya hendaklah ia menutupnya dengan amalan yang lebih baik.”[5]

Sekarang kita berada di sepertiga akhir ramadhan, duapertiga ramadhan tahun ini telah berlalu, kita tidak bisa kembali ke hari yang berlalu tapi kita bisa merencanakan dan mengusahakan hari yang akan datang, sepertiga akhir ramadhan adalah hari-hari paling utama diantara hari-hari utama lainnya di bulan ramadhan, Allah katakan ada saat di hari ini lebih baik dari seribu bulan yaitu lailatul qadar, dalam firmannya

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

"Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan." [6]



Maka ini kesempatan yang harus kita maksimalkan sebelum ramadhan pergi meninggalkan kita, untuk yang Allah ta'ala mudahkan di dalam ketaatan dan istiqomah dari awal ramadhan, jangan lalai di penghujung akhir ini, jangan urusan dunia malah mengagalkan kesempatan emas puncak dari akhir ramadhan ini dan bagi yang lalai di awal-awal ramadhan, tidak bisa memanfaatkannya dengan baik, maka ini kesempatannya bahkan keutamaannya lebih besar, teruslah optimis dengan keutamaan, pahala dan ampunan yang akan kita dapatkan di bulan ini,, ingatlah nasehat emas dari Al-Imam fudhail bin iyadh rahimahullah tentang memanfaatkan kesempatan dalam hidup

"تُحْسِنُ فِيمَا بَقِيَ ، يُغْفَرُ لَكَ مَا مَضَى وَمَا بَقِيَ , فَإِنَّكَ إِنْ أَسَأْتَ فِيمَا بَقِيَ أُخِذْتَ بِمَا مَضَى وَمَا بَقِيَ ."

“Kamu perbaiki pada apa yang masih tersisa, niscaya apa yang telah lewat akan diampuni. Sebab, jika kamu berbuat jelek pada apa yang masih tersisa, niscaya kamu akan disiksa karena apa yang telah lewat dan apa yang tersisa.”[7]


Begitu pula ramadhan yang tersisa, semoga dengan memperbaiki yang ada akan menjadikan ampunan Allah datang kepada kita dan keutamaan-keutamaan luar biasa lainnya bisa kita peroleh dan jangan sampai kita termasuk orang yang merugi dan celaka dalam doa Jibril yang diaminkan oleh rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

رَغِمَ أَنْفُ عَبْدٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ

"Sungguh sangat merugi(celaka) seseorang yang ia masuk ke dalam bulan Ramadhan lalu tidak diampuni dosanya."[8]



_____________


[1] HR. Muslim.

[2] HR. Bukhari dan Muslim.

[3] HR. Bukhari dan Muslim.

[4] HR. Bukhari.

[5] Lathoiful Ma’arif

[6] Al-Quran surat Al-Qadr ayat 3.

[7] Jami’ul ‘ulum wal hikam karya Al Hafizh Ibnu Rajab Al Hanbali.

[8] Hadits riwayat Imam Ibnu Khuzaimah.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kaidah Fiqih: الضرورات تبيح المحظورات (Darurat Membolehkan hal yang Dilarang)

Kaidah Fikih: “الضرورة تُقدَّر بقدْرِها” (Darurat Diukur Sesuai Kadar Kebutuhannya)

KAIDAH FIKIH: “الحُكْمُ يَدُورُ مَعَ عِلَّتِهِ وُجُودًا وَعَدَمًا” Hukum Berputar Bersama ‘Illat-nya, Ada atau Tidaknya