Keikhlasan dalam menuntut ilmu
Kita tahu bahwa sarana dan parasana para ulama zaman dahulu sangat minim. Tetapi kita lihat kitab-kitab karangan para ulama luar biasa dahsyatnya, sebutlah Majmu Fatawa susunan syaikhul Islam 37 jilid dan tiap jilid berisi ratusan halaman. Imam Ibnu Hajar rahimahullahu ta'ala salah satu kitab yang fenomenal yaitu Fathul Bari syarah shahih Bukhari sebanyak 13 jilid yang satu jilidnya lebih dari 500 halaman. padahal mereka adalah orang yang super sibuk berdakwah, sibuk mengajar, sibuk berperang.
Kenapa para ulama-ulama zaman dahulu dengan sarana prasarana yang super minim menghasilkan karya tulis ilmiah yang luar biasa sementara manusia-manusia zaman sekarang tidak ada yang menyamai karya ulama-ulama yang terdahulu salah satunya karena keberkahan ilmu.
Salah satu penyebab hilangnya keberkahan ilmu adalah banyaknya kendala-kendala yang menghalangi keberkahan ilmu.
Di antara kendala atau penghalang paling dasar tapi besar efeknya dalam menuntut ilmu yaitu Tholabul Ilmi Lighoiri wajhillah ta’ala, menuntut ilmu bukan karena Allah ta'ala.
dalam Sebuah hadits dari amirul mukminin Umar bin Khattab radhiyallahu anhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ
"Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai kemana ia hijrah." [1]
Ketika membahas hadits ini para ulama menjelaskan ketika hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya disebut terang-terangan orang itu hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Tetapi ketika menyebut siapa yang hijrahnya kepada dunia atau untuk wanita maka hijrahnya itu sesuai dengan niat hijrahnya itu kesana, disebut kesana tidak disebut maka hijrahnya kepada dunia dan kepada wanita. Maka hal tersebut menunjukan hinanya hal itu sehingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mau menyebutkannya.
Berkata Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah
من طلب العلمَ ابتغاء الآخرة أدركَها، ومن طلب العلمَ ابتغاء الدنيا فهي حظُّه منه
"Barangsiapa yang mencari ilmu karena mencari akhirat maka dia akan memperolehnya, tapi barangsiapa yang mencari ilmu karena dunia maka itulah bagian yang dia dapatkan."
Dan lebih tegas dan semakna dengan itu adalah apa yang diucapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
"Barangsiapa yang mempelajari ilmu yang seharusnya dipelajari karena Allah azza wa jalla tetapi dia tidak mempelajari ilmu itu kecuali hanya untuk memperoleh keuntungan dunia maka dia tidak akan mencium baunya surga pada hari kiamat [2]
Kemudian Allah berfirman dalam salah satu hadits qudsi,
أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنْ الشِّرْكِ؛ مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي، تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ
"Aku adalah dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu, barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan tetapi dia menyekutukan Aku dalam amalan itu, Aku tinggalkan dia dan Aku juga tinggalkan amalan syiriknya, perbuatan syiriknya."[3]
Memperbaiki niat dalam mencari ilmu itu sebesar-besar faktor pembantu untuk memahami ilmu. Semakin ikhlas akan semakin mudah untuk memahami ilmu.
sebuah riwayat dari Ibrahim an-Nakha’i rahimahullah ta'ala menyatakan
من ابتغى شيئًا من العلم يبتغي به وجه الله عز وجل، أتاه الله منه ما يكفيه
"Siapa yang mencari suatu ilmu karena mencari wajah Allah, ikhlas karena Allah, maka Allah akan memberikan kepada dia ilmu-ilmu yang mencukupinya."[4]
Inilah pentingnya belajar dengan niat yang ikhlas karena Allah ta'ala dan karena keikhlasan itu salah satu diantara faktor yang bisa memudahkan kita untuk memahami ilmu dan mendapatkan keberkahan ilmu.
Referensi :
Di sadur dari kitab awai'q attholab (kendala penuntut ilmu) karya seykh abdussalam bin barzaj rahimahullah
[1] HR. Bukhori dan muslim
[2] dikeluarkan abu daud di dalam sunanNya, kitab ilmi bab menuntut iomu untuk selain Allah.
[3] HR. Muslim no. 2985
[4] sunan ad-Darimi

Komentar
Posting Komentar