Perkara yang dapat menghilangkan pahala seorang hamba



Kita semua mengetahui bahwasanya manusia akan masuk ke dalam surga karena rahmat Allah ta'ala.

akan tetapi kita juga harus memahami bahwasanya rahmat Allah ta'ala itu tidak mungkin diperoleh dengan kemaksiatan kemaksiatan, tidak mungkin diperoleh dengan pembangkangan pembangkangan kepada Allah ta'ala.

Rahmat Allah tentunya diperoleh dengan kebaikan kebaikan, ketaatan ketaatan dan amal amal sholeh seorang hamba.

Allah ta'ala berfirman


إِنَّ رَحْمَتَ ٱللَّهِ قَرِيبٌ مِّنَ ٱلْمُحْسِنِينَ


"Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik"[1]


Dalam ayat yang lain Allah ta’ala juga berfirman


ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ


Masuklah kalian ke dalam surga disebabkan oleh amalan-amalan kalian.” [2]


Dan masih banyak di dalam ayat Al-quran dan hadis nabi shallallahu alaihi wasallam memerintahkan kita untuk banyak beramal shalih. Karena sesungguhnya itulah yang akan kita bawa  menuju kehidupan akhirat kita.


Namun, ada sesuatu yang lebih besar yang hendaknya kita pikirkan setelah kita beramal, setelah kita diberikan oleh Allah kemampuan dan kekuatan untuk beramal shalih, ada tugas lain yang lebih berat dari itu. Yaitu menjaga amal agar tidak dibatalkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak dihilangkan pahalanya oleh Allah subhanahu wa ta'ala.

 

Bukan tanpa sebab,  banyak perkara yang bisa menyebabkan amal seorang hamba dibatalkan oleh Allah. Kita akan sedikit jelaskan beberapa perkara yang bisa membatalkan dan menghilangkan pahala seorang hamba.


Ujub


Seseorang merasa ujub, merasa bangga dengan dirinya merasa bangga dengan banyaknya amal yg sudah ia kerjakan, merasa telah banyak berbuat baik  untuk islam dan kaum muslimin, merasa telah melakukan sesuatu untuk membela Allah, Rasul-Nya dan Al Qur’an, lalu merasa tinggi  hatinya dan bahkan menganggap remeh orang yang tak seperti dirinya.


Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :


ثَلاَثُ مُهْلِكَاتٍ : شُحٌّ مُطَاعٌ وَهَوًى مُتَّبَعٌ وَإعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ


Tiga perkara yang membinasakan, rasa pelit yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti dan ujubnya seseorang terhadap dirinya sendiri” [3] 


Dalam hadist yang lain beliau mengatakan :


لَوْ لَمْ تَكُوْنُوا تُذْنِبُوْنَ خَشِيْتُ عَلَيْكُمْ مَا هُوَ أَكْبَرُ مِنْ ذَلِكَ الْعُجْبَ الْعُجْبَ


Jika kalian tidak berdosa maka aku takut kalian ditimpa dengan perkara yang lebih besar yaitu ujub ! ujub !” [4] 


Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah juga mengatakan di dalam majmu’ fatawa


والعُجْب من باب الإشراك بالنفس


ujub termasuk syirik kecil karena hakikatnya dia seakan-akan mengungkit kehebatannya dan karena dirinyalah dia bisa beramal dan bermanfaat bukan hanya semata-mata Allah yang membuat dirinya  berhasil, Padahal yang memberikan kepada dia kekuatan untuk beramal shalih dan bermanfaat adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala semata bukan karena kehebatan dirinya.


Bermaksiat ketika sendirian


Ibnu majah  meriwayatkan dalam sunannya :


عَنْ ثَوْبَانَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَالَ :  لأَعْلَمَنَّ أَقْوَامًا مِنْ أُمَّتِى يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحَسَنَاتٍ أَمْثَالِ جِبَالِ تِهَامَةَ بِيضًا فَيَجْعَلُهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَبَاءً مَنْثُورًا

قَالَ ثَوْبَانُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا جَلِّهِمْ لَنَا أَنْ لاَ نَكُونَ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لاَ نَعْلَمُ

 قَالَ : أَمَا إِنَّهُمْ إِخْوَانُكُمْ وَمِنْ جِلْدَتِكُمْ وَيَأْخُذُونَ مِنَ اللَّيْلِ كَمَا تَأْخُذُونَ وَلَكِنَّهُمْ أَقْوَامٌ إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللَّهِ انْتَهَكُوهَا 


Dari Tsauban, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata “Sungguh aku mengetahui suatu kaum dari umatku datang pada hari kiamat dengan banyak kebaikan semisal Gunung Tihamah. Namun Allah menjadikan kebaikan tersebut menjadi debu yang bertebaran.”


Tsauban berkata, “Wahai Rasulullah, coba sebutkan sifat-sifat mereka pada kami supaya kami tidak menjadi seperti mereka sedangkan kami tidak mengetahuinya.”


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Adapun mereka adalah saudara kalian. Kulit mereka sama dengan kulit kalian. Mereka menghidupkan malam (beribadah) seperti kalian. Akan tetapi mereka adalah kaum yang jika sendiri ,  mereka bermaksiat pada Allah.”  [5] 


Ketika seseorang lebih takut kepada manusia daripada kepada Allah, dia lebih takut diawasi manusia daripada diawasi oleh Allah. Saat ia diawasi oleh gurunya, saat ia diawasi oleh manusia, saat ia diawasi oleh istrinya, ia bertakwa, takut kepada Allah. Tapi ketika tidak ada yang mengawasi dirinya. Dia tidak takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. 

Maka berhati hatilah,  Menjadi orang bertaqwa di hadapan manusia tapi menjadi teman syaitan di kala sendirian…

 


Kedzaliman 


Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

‎اتَّقُوا الظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ


Hati-hati kezaliman karena zalim itu kegelapan pada hari kiamat.” [6]


Dan di dalam hadis yang lain Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda kepada para sahabat:


أَتَدْرُونَ مَنِ الْمُفْلِسُ؟

Tahukah kalian siapa orang-orang yang bangkrut itu?” 


الْمُفْلِسُ فِينَا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ ، وَلَا مَتَاعَ لَهُ


para sahabat berkata, “Orang yang bangkrut menurut kami wahai Rasulullah, orang yang tidak mempunyai dirham (uang) orang yang tidak mempunyai harta.”


Tp apa Kata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam


إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ


Sesungguhnya  orang yang bangkrut pada hari kiamat dari umatku adalah orang yang datang membawa pahala shalat, membawa pahala puasa, membawa pahala zakat (pahala amal sholeh)”


وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا 


Tetapi dia juga mencaci maki si ini, menuduh si itu, memakan harta orang ini, menumpahkan darah orang ini, dan memukul orang ini (dzalim).”


 فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ


Maka orang ini diberi sebagian kebaikan-kebaikannya kepada orang yang Ia dzolimi”.


فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أخذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ

 


Jika kebaikan-kebaikannya telah habis sebelum diselesaikan kewajibannya terhadap orang yang Ia dzolimi maka kesalahan-kesalahan mereka diambil lalu ditimpakan padanya, lalu dia pun dilemparkan kedalam api neraka.[7]

 

Subhanallah, ummatul islam.. Jangan sampai kita menjadi orang-orang yang dermawan dengan amalan shalih untuk kita berikan kepada orang lain. Padahal kita sangat butuh pada hari kiamat kepada pahala kita. Tapi kemudian kita berikan kepada orang lain dengan cara menzoliminya.


Itulah beberapa perkara yang bisa menghilangkan dan membatalkan amalan seorang hamba.

 jagalah amalan kita. Jika sudah banyak beramal shalih, Alhamdulillah.. Bersyukur kita kepada Allah yang telah memberikan kekuatan untuk beramal shalih, namun tugas selanjutnya adalah menjaga amalan shalih tersebut,  Jangan sampai dibatalkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla.


Semoga tulisan ini bisa jadi pengingat buat kita jangan sampai ujub membinasakan kita, jangan sampai kita menjadi manusia bertaqwa di hadapan orang banyak saja, jangan sampai kezaliman membuat kita bangkrut di hari kiamat.



Referensi :

[1] QS Al-A'raf 56

[2] QS An-Nahl 32

[3] HR at-Thabrani dalam Al-Awshoth no 5452

[4] HR Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman

[5] HR. Ibnu Majah no. 4245

[6] HR. Muslim, no. 2578

[7] HR. Muslim, no. 2581

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kaidah Fiqih: الضرورات تبيح المحظورات (Darurat Membolehkan hal yang Dilarang)

Kaidah Fikih: “الضرورة تُقدَّر بقدْرِها” (Darurat Diukur Sesuai Kadar Kebutuhannya)

KAIDAH FIKIH: “الحُكْمُ يَدُورُ مَعَ عِلَّتِهِ وُجُودًا وَعَدَمًا” Hukum Berputar Bersama ‘Illat-nya, Ada atau Tidaknya