Menjadikan makmum masbuk sebagai imam untuk Jama’ah yang masbuk?




Hal seperti ini sering kita dapati di masjid-masjid kaum muslimin. Ketika seseorang datang terlambat ke masjid dan shalat berjamaah telah usai lalu mencari makmum yang mungkin juga telat tapi masih mendapatkan shalat berjamaah bersama Imam kemudian menjadikannya Imam.

Gambaran permasalahan :

Zaid datang terlambat  ke masjid dan shalat berjamaah telah usai, lalu ia mendapati ada makmum masbuk yang sedang menyempurnakan shalat yaitu Udin  (terlambat mengikuti awal shalat atau rakaat pertama namun masih mendapatkan rakaat bersama imam). Lalu Zaid berdiri di samping udin dan menjadikan Udin imam untuk shalatnya.

Apakah boleh dan afdhal hal seperti ini?

Ternyata ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama dalam perkara ini

Pendapat pertama, tidak boleh menjadikan makmum masbuk sebagai imam dan tidak sah shalatnya orang yang mengikuti makmum masbuk tersebut.

Diantara hujjahnya adalah perbuatan seperti  ini tidak dilakukan oleh orang-orang terdahulu(salaf). Kalau saja hal ini termasuk kebaikan, tentu para sahabat telah mendahului di dalam mengamalkannya.

Kemudian hal seperti ini juga bisa menyebabkan tasalsul/perputaran yang tak berhenti (dalam ilmu ushul fiqih tasalsul menunjukkan kebatilan argumentasi). Orang yang tidak mendapatkan jemaah pertama bersama imam, maka ia menjadi makmum di belakang makmum masbuk saat ia sedang melengkapi shalatnya. Mungkin saja ia juga tertinggal sebagian shalatnya makmum masbuk yang ia jadikan imam tersebut lalu ia melengkapinya. Datanglah orang ketiga, lalu ia melakukan sebagaimana yang dilakukan orang kedua, dan begitulah seterusnya.


Pendapat kedua, boleh dan sah menjadikan makmum masbuk sebagai imam

Juga agar mendapatkan keutamaan shalat berjamaah apalagi jika dia masbuk sendiri dan tidak bisa membuat jama’ah yang baru.


bagaimana pandangan ulama?

  • Syaikh bin baz rahimahullah ta’ala ketika ditanya perihal ini beliau menjawab :


الأمر في هذا واسع، إن صليت وحدك فهو أحوط وأولى خروجاً من خلاف العلماء، وإن كان معك جماعة فالأولى والأفضل أن تصلوا جميعاً ولا تصلوا مع المسبوق، وإن صليت مع المسبوق وجعلته إماماً لك فلا حرج في ذلك على الصحيح، والصلاة صحيحة إن شاء الله، لكن الأفضل والأولى لك أن تصلي وحدك…


"Permasalahannya luas. Jika kamu shalat sendirian maka itu lebih aman dan terhindar dari perselisihan para ulama, dan jika ada rombongan yang bersamamu, maka lebih baik dan utama untuk kalian shalat berjamaah dan tidak shalat bersama orang yang masbuk. Pun jika kamu shalat bersama orang yang masbuk dan menjadikannya imammu, maka hal itu tidak mengapa menurut pendapat yang rajih dan shalatnya sah, InsyaaAllah, Tapi lebih utama dan lebih baik kamu shalat sendirian…”


  • Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah ta’ala pernah ditanya

عَنْ رَجُلٍ أَدْرَكَ مَعَ الْجَمَاعَةِ رَكْعَةً فَلَمَّا سَلَّمَ الْإِمَامُ قَامَ لِيُتِمَّ صَلَاتَهُ فَجَاءَ آخَرُ فَصَلَّى مَعَهُ فَهَلْ يَجُوزُ الِاقْتِدَاءُ بِهَذَا الْمَأْمُومِ؟

"Ada seseorang yang mendapati jama’ah tinggal satu raka’at. Ketika imam salam, ia pun berdiri dan menyempurnakan kekurangan raka’atnya. Ketika itu, datang jama’ah lainnya dan shalat bersamanya (menjadi makmum dengannya). Apakah mengikuti makmum yang masbuk semacam ini dibolehkan?"

lalu jawaban beliau,

أما الأول ففي صلاته قولان في مذهب أحمد وغيره ; لكن الصحيح أن مثل هذا جائز وهو قول أكثر العلماء إذا كان الإمام قد نوى الإمامة والمؤتم قد نوى الائتمام . فإن نوى المأموم الائتمام ولم ينو الإمام الإمامة ففيه قولان 

أحدهما : تصح كقول الشافعي ومالك وغيرهما وهو رواية عن أحمد 

والثاني : لا تصح وهو المشهور عن أحمد وذلك أن ذلك الرجل كان مؤتما في أول الصلاة وصار منفردا بعد سلام الإمام فإذا ائتم به ذلك الرجل صار المنفرد إماما كما صار النبي صلى الله عليه وسلم إماما بابن عباس بعد أن كان منفردا . وهذا يصح في النفل كما جاء في هذا الحديث كما هو منصوص عن أحمد وغيره من الأئمة وإن كان قد ذكر في مذهبه قول بأنه لا يجوز وأما في الفرض فنزاع مشهور والصحيح جواز ذلك في الفرض والنفل فإن الإمام التزم بالإمامة أكثر مما كان يلزمه في حال الانفراد فليس بمصير المنفرد إماما محذورا أصلا بخلاف الأول والله أعلم .

"Mengenai shalat orang yang pertama tadi ada dua pendapat di madzhab Imam Ahmad dan selainnya. Akan tetapi pendapat yang benar, perbuatan semacam ini dibolehkan. Inilah yang menjadi pendapat kebanyakan ulama. akan tetapi Makmum merubah niatnya menjadi imam dan yang mengikutinya berniat sebagai makmum.

Namun jika orang yang mengikuti (yang telat datangnya tadi) berniat untuk mengikuti orang yang sudah shalat bersama imam sebelumnya (makmum masbuk), sedangkan yang diikuti tersebut tidak berniat menjadi imam, maka di sini ada dua pendapat mengenai kesahan shalatnya:

Pendapat pertama: Shalatnya sah sebagaimana pendapat Imam Asy Syafi’i, Imam Malik dan selainnya. Pendapat ini juga adalah salah salah pendapat dari Imam Ahmad.

Pendapat kedua: Shalatnya tidak sah. Inilah pendapat yang masyhur dari Imam Ahmad. Alasan dari pendapat kedua ini, orang yang menjadi makmum pertama kali untuk imam pertama (makmum masbuk), setelah imam salam, maka ia statusnya shalat munfarid (sendirian). Lalu mengenai makmum masbuk tadi yang menyelesaikan shalatnya, semula ia shalat munfarid, ia boleh merubah niat menjadi imam bagi yang lain sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjadi imam bagi Ibnu ‘Abbas tatkala sebelumnya beliau niat shalat munfarid. Seperti ini dibolehkan dalam shalat sunnah sebagaimana disebutkan dalam hadits Ibnu ‘Abbas tersebut. Hal ini pun menjadi pendapat Imam Ahmad dan ulama lainnya.  Namun disebutkan dalam madzhab Imam Ahmad suatu pendapat yang menyatakan bahwa seperti ini dalam shalat sunnah tidak dibolehkan. Sedangkan mengikuti shalat makmumm masbuk dalam shalat fardhu, maka di sini terdapat perselisihan yang masyhur di kalangan para ulama. Akan tetapi, yang benar adalah bolehnya hal ini dalam shalat fardhu maupun shalat sunnah karena yang diikuti menjadi imam dan itu lebih banyak daripada kedaannya shalat munfarid. Oleh karena itu, mengalihkan dari shalat sendirian menjadi imam, itu tidaklah terlarang sama sekali. Berbeda halnya dengan pendapat pertama tadi (yang menyatakan tidak bolehnya). Wallahu a’lam.




Ringkasan penulis :

Perkara ini termasuk perkara yang diperselisihkan ulama ketika menjadikan makmum masbuk sebagai imam dan pembahasanya lebih detail dan ada beberapa perincian lebih dalam masalah hujjah masing-masing pendapat.

pendapat yang rajih shalatnya tetap sah, akan tetapi mengambil pendapat pertama yaitu tidak bolehnya menjadikan makmum masbuk sebagai imam -insyaallah- lebih selamat dan keluar dari perselisihan.

Karena hukum asal ibadah adalah haram kecuali ada dalil yang membolehkannya, sedangkan para sahabat tidak melakukannya dan perkara seperti ini bisa menyebabkan tasalsul terus berulang-ulang jika selalu ada yang telat datang shalat.

menjadikan seorang munfarid Imam dengan menjadikan orang masbuk Imam itu berbeda.

bahkan bisa menyebabkan tasalsul berulang-ulang.

Maka lebih baik dan kehati-hatian untuk shalat sendirian atau jika berdua/rombongan maka membuat jamaah baru lebih afdhol.

Namun  kita harus menghormati orang-orang yang mengambil pendapat yang lain pada perkara ini. Wallahu a’lam bisshowab.






Referensi :

[1] https://binbaz.org.sa/

[2] https://www.google.com/amp/s/www.islamweb.net/amp/ar/fatwa/119955/

[3] مجموع فتاوى ابن تيمية

[4] httpshttps://al-fatawa.com/fatwa/36862/هل-يشروع-دخول-الصلاة-مؤتما-خلف-من-يقضي-صلاته-بعد-تسليم-الامام-وهل-يشترط-نية-الامامة-من-المسبوق-ابن-عثيمين

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kaidah Fiqih: الضرورات تبيح المحظورات (Darurat Membolehkan hal yang Dilarang)

Kaidah Fikih: “الضرورة تُقدَّر بقدْرِها” (Darurat Diukur Sesuai Kadar Kebutuhannya)

KAIDAH FIKIH: “الحُكْمُ يَدُورُ مَعَ عِلَّتِهِ وُجُودًا وَعَدَمًا” Hukum Berputar Bersama ‘Illat-nya, Ada atau Tidaknya